Sebuah Peta Menuju Harta Karun

Bagikan

Oleh : Yiyin Ema Amalia, S.Pd

Sejarah awal perubahan kualitas pendidikan dimulai pada tahun 2000, sebanyak sepertiga dari satu juta remaja berusia 15 tahun di 43 negara duduk bersama selama dua jam dihadapkan pada sebuah tes baru yang belum pernah ada sebelumnya. Tes tersebut bernama PISA yang merupakan kepanjangan dari Program for International Student Assesment (Program penilain untuk siswa internasional). Pada tahun tersebut Indonesia menjadi salah satu dari 43 negara yang turut serta dalam penyelenggaraan tes.

Sebelum PISA terbentuk, terdapat beberapa lembaga tes internasional lainnya. Uniknya, konsep tes yang diberikan PISA dan tes internasional sebelumnya sangat berbeda.

Pada tes sebelumnya, soal tes hanya menekankan pada daya ingat siswa terkait apa saja yang sudah dipelajarinya di kelas. Sedangkan soal tes yang disajikan oleh PISA merupakan soal-soal yang dapat mengukur tingkat berpikir kritis dan kemampuan siswa dalam memecahkan masalah, di dalamnya mencakup kemampuan logika matematika, kemampuan memahami bacaan dan kemampuan dalam sains.

Soal yang dirancang oleh PISA disusun dan disesuaikan dengan kehidupan dunia modern, tes tersebut membantu siswa mengasah keterampilan berpikir agar siap dalam menghadapi tantangan zaman. Terlebih di zaman digital ini tsunami informasi sudah tidak dapat dibendung lagi, sehingga dengan keterampilan berpikir yang dimiliki dapat membantu siswa untuk lebih bijak dalam menghadapi era globalisasi.

Sejalan dengan itu, pada Sabtu, 7 September 2022 Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi, Nadiem Makarim dalam channel youtube Kemdikbud RI mengumumkan suatu perubahan besar terkait tes seleksi masuk perguruan tinggi negeri. Nadiem menjelaskan bahwa mulai tahun 2023 tes yang akan dilaksanakan hanya mencakup tes skolastik saja yang di dalamnya mencakup tes kognitif, penalaran matematika serta pemahaman bacaan (literasi Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris).

Dari keputusan tersebut, kita seakan disadarkan pada satu hal. Ya, ternyata selama 22 tahun Indonesia baru akan menerapkan soal yang sudah diterapkan PISA dari tahun 2000, sungguh suatu ketertinggalan yang sangat lama. Mungkin inilah salah satu sebab mengapa Indonesia menurut data PISA berada pada rangking 10 besar dari urutan terbawah.

Dari hasil tersebut kemampuan berpikir kritis dan keterampilan memecahkan masalah siswa Indonesia masih sangat rendah dan perlu dilatih lagi. Dalam hal ini peran guru sangat berpengaruh dalam peningkatan kualitas pendidikan.

Jika keputusan Mas Menteri  tersebut dapat menghasilkan dampak positif, maka tes peningkatan berpikir kritis dan pemecahan masalah dapat diterapkan dalam sistem pendidikan Indonesia bukan hanya pada tes seleksi masuk perguruan tinggi saja.

Dan tentu saja, harapan terbesar semoga dengan adanya perubahan tersebut dapat menjadi sebuah peta menuju harta karun meningkatnya kualitas pendidikan Indonesia. Tidak ada yang tidak mungkin jika siswa Indonesia mulai terbiasa dengan konsep berpikir kritis tersebut, di beberapa tahun ke depan pendidikan Indonesia dapat mengungguli Finlandia sebagai Negara adidaya pendidikan.

Scroll to Top